Feeds:
Posts
Comments

Bromo Adventure

Guys, sorry to break the Turkey Journey story for a while.

Actually Bromo is one of my traveling destination. Especially the location still consider close to my project location in Malang city. Awalnya di akhir bulan Maret kemarin aku hanya merencanakan perjalanan pekerjaanku ke Malang. Selesainya pekerjaan ku di Malang dan akan adanya soft opening untuk electronic store yang telah ku design, aku harus berangkat ke sana untuk final check. Bosku, Matsu-san, meminta ku ke sana untuk mewakili beliau dan mengajak 2 orang tim disainku. Kami akan menghabiskan 2 hari di Malang dan 1 hari di Surabaya. Dan ternyata di hari ke empat (hari Kamis, tanggal 9 April) adalah hari libur sehubungan Pemilihan Umum untuk anggota Legeslatif di Indonesia. Lebih begonya lagi aku baru sadar kalo di hari ke lima (hari Jumat, 10 April) adalah hari libur Wafatnya Isa Almasih. And finally we agreed to take advantage of the two days holiday. Lets go to the BROMO!!! Yehaaa…..
Senin, 6 April;
Jam 08.00 am kita berkumpul di kantor di daerah jakarta selatan. Kami memilih memesan Mercy Silver Bird karena kita bisa share bertiga. Sayang karena lalu lintas macet sehingga biaya sampai bandara: Rp. 239 rb rupiah. Tapi untuk kenyamanan yang kita dapat sepadanlah. Pesawat ku GA 312, dengan harga tiket Rp. 851.800 (sudah termasuk pajak dan lain2), take off agak terlambat karena harus menunggu 2 orang penumpang yang mungkin terlambat karena masalah tikecting juga. Dari ETA 12.20, kita sudah landing 12.12. Lebih cepat 8 menit dari schedule. Good good. Its quite punctual. Salute for Garuda. Kayaknya karena keterlambatan take-off tadi si pilot “kejar setoran” mengebut, sehingga mendarat lebih awal. Di Surabaya seperti biasa kita sudah dijemput oleh temanku. Aku terbiasa menggunakan jasa Agung, temanku, untuk penyewaan mobil. Fee untuk penyewaan mobil ini Rp. 400ribu /hari sudah termasuk jasa supirnya, tetapi belum termasuk bensin. Rencananya kami akan memakai jasa sewa mobil ini untuk 4 hari. Setalah menyelesaikan urusan di Surabaya, sekitar jam 06.30 pm kami berangkat ke Malang. Surabaya ke Malang rata-rata memakan waktu 2-3 jam termasuk melewati daerah Porong dengan masalah lumpur Lapindo-nya itu. Jam 8.30 pm kami sampai di kota Malang. Perjalanan yang melelahkan. Dan setelah memyelesaikan urusan pekerjaan, kami check-in di Hotel Santika. Beberapa kali saya sudah menginap di Hotel ini. Untuk pertimbangan bisnis, sebenarnya Santika bukan pilihan yang terbaik. Mereka tidak menyediakan layanan internet yang memadai. Untuk koneksi internet, kita harus membeli voucher internet Indosat IM2. Pada saat itupun di front office mereka tidak menjualnya. Hotel Tugu lebih baik dalam hal ini. Internet connection mereka free dan speed-nya pun bikin saya kaget (ketika saya menginap di sana). Tapi untuk ukuran luasan kamar, Hotel Santika lebih memberikan ukuran yang lebih luas, dengan inner view yang lebih baik (untuk beberapa kamar). Tugu Hotel considered as a unique etnic hotel with better internet connection. Dua hari di Malang akhirnya selesai juga tugas-tugas kerjaanku. Its time to prepare to go to Bromo.
Rabu, 8 April;
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 pm. Mampir makan sebentar di Rawon Nguling, rumah makan special rawon yang aslinya berasal dari daerah Probolinggo. Setelah selesai makan, kita berangkat menuju Bromo. Malang ke Bromo jarak yang ditempuh lebih dari 100 km, dengan perkiraan 2 jam perjalanan. Kami sengaja jalan setelah makan siang karena menghindari sampai di Bromo malam. Bila malam tentu pemandangan di sepanjang perjalanan Bromo tidak bisa dinikmati. Di perjalanan kami sempat berhenti di luar kota Malang, di kota Lawang. Kami singgah di peternakan lebah Rimba Raya. Agung memberitahu kalau peternakan lebah ini lumayan terkenal dan sudah pernah diliput oleh salah satu stasiun televisi. Di sana aku baru tahu kalo ternyata madu itu ada beberapa jenis. Mereka membaginya menjadi 4 jenis madu antara lain: madu yang yang benar-benar madu yang dihasilkan oleh lebah, madu yang berasal dari kumpulan sari pati bunga, madu yang diolah dari sarang lebah itu sendiri dan madu yang diolah dari larva lebah. Aku membeli satu yaitu madu yang berasal dari larva lebah, yang berfungsi mengurangi alergi. Madu jenis ini mereka menyebutnya madu propolis alergi. Harganya Rp 100rb / botol. Setalah selesai urusan madu, kami melanjutkan perjalanan. Di pertigaan Purwosari ternyata kita belok ke kanan, kalau menuju Surabaya ke sebelah kiri. Kita menuju ke arah kota Pasuruan. Purwosari ke Pasuruan kurang lebih 40 km. Tidak begitu jauh dan lalu lintasnya juga tidak terlalu padat. Sesampainya di Pasuruan Agung sempat bingung dan kehilangan arah. Tetapi setengah kurang yakin akhirnya kita menemukan rute ke Bromo kembali. Rute yang kita ambil adalah rute pantura Surabaya – Banyuwangi. Lalu lintas hari itu juga tidak terlalu padat. Hanya sekali-kali berpapasan dengan truk. Dari Pasuruan ini kita ke arah timur menuju kota Probolinggo. Pasuruan ke Probolinggo berjarak kurang lebih 39 km. Sebelum memasuki kota Probolinggo kita berbelok ke arah Selatan, menuju daerah bernama Ngadisari. Jalur ini mulai berasa menanjak. Kanan kiri pemandangannya mulai terlihat asri. Untuk menghemat bensin kita sepakat tidak menggunakan pendingin udara (AC). Dari Probolinggo ke Ngadisari ini kita akan menemukan 1 pengisian bahan bakar (POM Bensin). Dan kita mengisi bensin di situ, cukup dengan Rp. 100 ribu, kurang lebih setara dengan 22 liter bensin. Di daerah Ngadisari ternyata sebuah hotel terbesar di sana terlihat sudah ditutup. Dan di daerah yang lebih jauh kita menemukan penginapan baru dengan nama “Banana Leaf”. Sepintas kelihatan baru, modern dan bersih. Tadinya kami kira itu adalah restaurant, ternyata kita salah. Sekitar kanan-kiri jalan pemandangan sangat asri dengan lembah dan bukit-bukit. Beberapa seakan-akan gunung-gunung itu seperti raksasa besar yang menghadang perjalanan kita. Saya merasakan kebesaran Tuhan di sana. Gunung-gunung ini saja besar sekali, seakan-akan manusia kecil tidak ada apa-apanya, apa lagi sang Pencipta gunung-gunung ini. Sekitar jam 05.00 kita sampai di desa Ngadisari. Sebuah hotel bernama Lava View terlihat berada di ujung. Agung sepertinya agak bingung dengan kondisi di daerah itu. Kemudian dia coba bertanya ke orang-orang yang berada di sana arah menuju Bromo Cottage. Ternyata kita mendapatkan jawaban kalau Bromo Cottage ada di daerah lain. We are lost. Kita berada di arah yang salah. Mereka bilang kita terlalu jauh 30 km. Bromo Cottage berada di daerah Tosari yang seharusnya bisa dicapai dari arah Pasuruan dan mereka menawarkan jasa 100rb untuk mengantarkan ke sana melalui jalan pintas melalui lautan pasir Bromo. Saya coba menawar jumlah tersebut, tetapi sepertinyta mereka bersikeras dengan jumlah itu. Akhirnya kite menyetujui jumlah tersebut mengingat jam menunjukkan jam 05.00 pm. Mereka mengantarkan kita sebagai guide menggunakan motor, berboncengan berdua berjalan di depan. Belum 1 km, setelah melewati portal “Taman Wisata Bromo Tengger Semeru”, kita dibuat takjub dengan pemandangan di sebelah kanan kita. GUNUNG BROMO, GUNUNG BATOK dan LAUTAN PASIR-nya, tepat berada di kanan kita. Kita sangat takjub dengan pemandangan ini. Terlihat beberapa turis dari mancanegara sedang berfoto di tepi tebing itu. Kita juga berhenti sebentar dan berfoto-foto di sana. Kedua guide kita juga menunggu di atas motor mereka. Terlihat sangat jelas GUNUNG BATOK. Dan lagi-lagi saya benar-benar merasakan kebesaran Tuhan. Setelah puas berfoto, kita melanjutkan perjalanan. Turun menuju lautan pasir dan mendekati Gunung Batok. Jam saat itu menunjukkan pukul 5.30 pm. Bayangkan menjelang magrib kita berada di tengah-tengah lautan pasir Bromo. Sekali lagi kita berhenti di sana. Berfoto-foto ria di sana. Tidak ada yang orang lain di sana selain kita berempat dan di kejauhan 2 orang guide kita yang sudah tidak sabar menunggu kita. Kemudian kita melewati kuil sembahyang suku Tengger dengan latar belakang Gunung Bromo dan mendekati Gunung Batok. Di akhir lautan pasir, kita sampai di sebuah gerbang / gapura. Di balik gerbang terlihat jalan yang sangat terjal menuju gugus pegunungan yang mengelilingi Gunung Bromo dan lautan pasirnya. Dua orang guide kita menunggu kita di sana. Mereka mengingatkan kita kalau nanti sebaiknya mobil kita dalam gigi 1 saja di jalan depan yang menanjak itu. Hari mulai gelap, dan kita mulai menyusuri jalan menanjak itu. Kanan kiri terlihat lembah. Uppps kita in the midlle of no where. Sepi dan gelap sekali. Gunung Bromo mulai terlihat menjauh. Agung dengan driving skill nya melahap setiap tikungan dan tanjakan. Kemudian saya tahu kalau daerah ini bernama Wonokitri. Sesekali kita berpapasan dengan masyarakat setampat yang berjalan kami di kegelapan. Mungkin mereka adalah suku Tengger. Di setiap ujung tikungan terlihat stupa mirip dengan stupa di Bali.
Note: Tengger ethnic society such as religious Hindu Bali. Between December – January they perform Hindu rituals at the shrine near the Bromo crater. This ritual usually known by the name “Kasodo”.

- Bromo Cottage Hotel see from the distance -
Setelah berjalan kurang lebih hampir 45 menit kita mulai menemukan peradaban. Terlihat kelompok pemukiman. Sesekali mulai berpapasan dengan motor dan mobil. Sepertinya kita sudah samapai di desa Tosari. Dan akhirnya sebuah papan penunjuk arah ke Bromo Cottage. Melewati pemukiman penduduk dan pasar, akhirnya kita sampai di Bromo Cottage. Hotel yang cukup besar. Berada di desa Tosari, yang masih merupakan desa suku Tengger. Mereka memiliki 80 kamar superior, 3 kamar suite dan 20 cottage dengan beberapa fasilitas. Reservasi hotel saya sudah diatur sebelumnya oleh Agung melalui travel agent di Surabaya. Saya hanya memesan 1 kamar superior dengan harga Rp. 500 rb / malam, sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Sebenarnya kamar superior lebih cocok untuk 2 orang. Tetapi mengingat kita hanya butuh 1 malam saja, saya memutuskan memesannya dan kita berempat harus share di sana. Setelah selesai dengan urusan administrasi di front desk, kami menuju kamar kami. Ternyata hotel ini terletak di lembah. Untuk menuju ke kamar, kami harus menuruni tangga. Beberapa kamar terkumpul dalam satu compound, dan Bromo Cottage memeliki beberapa compound. Compound kamar kita terletak di tengah lembah, jadi jalan turunnya cukup jauh. Masuk ke kamar, ternyata tempat tidurnya twin bed. Jadi kita bisa sharing 1 tempat tidur untuk 2 orang. Dua tempat tidur spring bed dengan bagian bawahnya dipan tripek. Jadi kalau kasurnya diturunkan ke bawah, bagian dipannya tidak nyaman untuk ditiduri. Suasana interiornya tidak terlalu bagus, tetapi lumayan bersih. Designnya terlihat sudah old fashion. Konsepnya kurang jelas. Tapi terlihat kalau dahulu si designer coba menerapkan konsep rumah kayu di dunia barat ke design interior kamar ini. Tetapi terlihat tidak berhasil 100%. Untuk sekedar tidur menunggu jam 4 pagi saya rasa ini sudah cukup. Kamar mandinya dilengkapi dengan bath tube dan shower di dalamnya. Jumlah pemakaian air panas showernya dibatasi beberapa liter dalam 1 jam. Kondisi Agung terlihat payah. Kayaknya dia tertular flu sebelumnya. Dia berbaring sebentar di kasur dan terlihat langsung tertidur. Saya memutuskan mengajak teman2 untuk mencari makan malam. Karena harus makan malam, Agung kita bangunkan. Suhu di luar terasa sangat dingin sekita 17 derajat Celcius. Di lobby kami melihat banyak turis-turis mulai check in. Sepertinya mereka satu rombongan. Dari receptionist saya diberitahu kalau mereka berasal dari Belgia. Kita mendapatkan informasi, bisa makan di daerah pasar Tosari, banyak pilihan di sana ada nasi goreng, bakso dan lain-lainnya. Tidak mau repot dengan pilihan-pilihan di pasar itu kita memutuskan tidak makan di sana, dan singgah di warung Bu Fat. Warung ini cukup terkenal di daerah sana. Suasana di sekitar warung ini tidak seramai di pasar. Pilihan makanan di warung itu pun lumayan banyak. Saya memilih ayam goreng dan sate sapi. Rasanya cukup lezat untuk ukuran warung. Selesai makan, kami kembali ke hotel. Dalam perjalanan kami coba mencari informasi mengenai penyewaan jip. Kata Agung pengalaman naik jip ke Bromo akan terasa berbeda. Dari orang yang kami temui mereka menyebutkan angka 350rb untuk 1 jip dengan rute ke Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise dan kemudian menuju lautan pasir. Kami minta dijemput di hotel setelah deal dengan harga 250rb dengan salah seorang sopir bernama pak Kariono. Sesampainya di kamar hotel, Agung langsung tergeletak di tempat tidur. Tidak lama berselang, receptionist menelpon kami. Mereka menerangkan kalau tamu hotel tidak bisa deal langsung ke supir jip. Tamu harus memesan jasa jip melalui hotel dengan tarif 350rb. Tidak punya pilihan lain akhirnya kami menyetujui hal ini dengan pihak hotel. Mereka juga menginformasikan kalau tour dimulai jam 04.00 pagi. Jam 10.00 malam kami mulai bersiap tidur. Susah untuk tidur, karena suhu sangat dingin dan tidak ada pemanas ruangan. Hanya karena kecapaian kami bisa tidur.
Kamis, 9 April;
Jam 3.30 kami terbangunkan oleh wake up call dari receptionist. Aku membangunkan semuanya, tetapi Agung memutuskan tidak ikut karena kondisinya yang payah. Ternyata di lobby sudah berkumpul semua turis, sebagian besar dari rombongan Belgia dengan tour guidenya. Terlihat 1 orang Jepang dan hanya kami bertiga turis lokal. Tersedia kopi, teh dan beberapa makanan kecil. Menikmati sebentar, saya memutuskan untuk pergi lebih awal dari rombongan itu. Jip yang kita naiki adalah jip yang disopiri oleh pak Kariono. Dalam perjalanan dia menceritakan kalau semua jip-jip ini dalam saru asosiasi. Kalau ordernya datang dari hotel-hotel besar harus dalam koordinasi hotel itu. Tapi kalau kita tinggal di losmen-losmen kecil di daerah itu, kita bisa memesan langsung ke supir-supir jip itu dengan upah yang lebih murah, 250rb dan selisih 100rb tersebut adalah jasa fee buat hotel. Kalau ada supir yang melanggar ijinnya akan dicabut dalam 1 bulan. Ternyata jalan yang kami lalui adalah jalan yang sama kami lalui ketika kemarin sore kami mencari hotel kami. Cuma di persimpangan kami berbelok ke arah yang berbeda ke arah gunung Penanjakan dan jalannya berbelok-belok. Di kejauhan di bawah, terlihat iring-iringan jip para turis mengikuti arah yang kami lalui. Lucu sekali terlihat seperti iring-iringan kunang-kunang. Kami lalu terhenti di sebuah pos penjagaan. Kata pak Kariono saya harus membayar cover charge mobil. Di pos penjagaan ini kita harus turun sendiri dan masuk ke dalam pos untuk membayar. Beberapa penjual terlihat menawarkan barang-barang jualan mereka. Aku membeli sepasang sarung tangan seharga 5rb dan tutup kepala 10rb. Gunung Penanjakan adalah spot dimana orang-orang berkumpul untuk melihat keindahan sunrise di Gunung Bromo. Karena posisi gunung Penanjakan lebih tinggi sehingga mudah untuk melihat sekeliling. Kata pak Kariono, beruntung ini bukan peak season, sehingga kita tidak perlu parkir terlalu jauh. Posisi lokasi Taman WisataBromo Tengger Semeru tidak memliki tempat parkir khusus buat jip-jip itu. Mereka harus parkir di pinggir jalan saja. Biasanya kata pak Kariono, pengunjung ada yang harsu jalan sejauh 2 km dari tempat berhentian ke lokasi. Kita berjalan hanya kurang lebih 400 m dari tempat pak Kariono berhenti. Itu pun sudah banyak jip yang parkir di sana. Di sekitar gerbang, beberapa warung menjajakan kopi, mie rebus dan makanan kecil. Beberapa anak menawarkan sewa mantel tebal. Karena banyak orang yang well prepare dengan baju hangatnya masing-masing sepertinya sewaan mereka tidak begitu laku. Rasa simpatiku akhirnya mebuatku menyewa 1 coat. Aku tawar 5ribu dari harga yang 10rb. Kita tidak perlu membayarnya dahulu. Setelah selesai nanti si penjaja akan mencari kita untuk mengambil coat dan uang sewanya. Melalu gerbang atau tepatnya gapura, menaiki beberapa anak tangga membawa ke tempat orang-orang berkumpul. Surprise, sudah banyak sekali orang berkumpul di sana menantikan untuk melihat sunrise. Ada kurang lebih seratusan orang belum termasuk rombongan turis Belgia yang belum datang. Mereka datang dari segala penjuru. Dari logat dan bahasanya bisa dikenali dari Singapore, China, Jawa Barat, Jepang beberapa negara Eropa dengan bahasa Prancisnya, lokal Jawa Timuran dan lain-lainnya. Semuanya mencari posisi terbaik untuk memotret moment sunrise. Camera yang mereka bawa pun berbagai macam dan jenis. Dari yang analog, pocket camera sampai digital SLR. Kurang lebih 30 menit menunggu sunrise, akhirnya moment itu datang juga. Semua sibuk dengan kamera masing-masing. Ckrek sana, ckrek sini, seakan-akan semua photographer proffesional. Satu hal yang membuatku jengkel adalah kamera yang kubawa habis baterenya, pada saat matahari mulai mengintip dibalik cakrawala. Huuuh kesalnya. Terpaksa mengistirahatkannya sebentar.
TIPS: ini penting, kadang-kadang pocket kamera kalau didiamkan sebentar bila baterenya mulai habis, dan akan bisa dipakai kembali walau tidak untuk waktu yang lama.
Ketika langit mulai terang, orang-orang mulai beralih dari arah Timur ke Selatan. Karena di arah Selatan Gunung Pananjakan terbentang pemandangan lautan pasir dan Gunung Bromo. Beberapa saat kemudian, tour guide rombongan turis asing mulai memberikan instruksi dalam bahasa Perancis mengumpulkan anggota tour mereka. Mereka mulai meninggal area tersebut sepertinya menuju lautan pasir.Di sebelah Barat area tersebut terletak beberapa tower pemancar telepon dan tower-tower lainnya. Spot ini juga baik sebagai latar belakang foto.Untuk mendapatkan background yang baik, kita tidak bisa hanya berdiri di area tersebut saja. Kita harus turun sedikit ke arah tower pemancar tersebut melewati pagar yang mengelilingi area tersebut. Dan di sanalah kita bisa melihat pemandangan Gunung Bromo yang benar-benar indah. Kawah Gunung Bromo disebelah gunung Batok tertidur di lautan pasir dengan latar belakang Gunung Semeru di kejauhan. Di sudut bawah Gunung Bromo terlihat sebuah pura tempat suku Tengger bersembahyang. Rasanya ingin kembali ke sana kalau mengingat moment tersebut.

Setelah puas mengambil beberapa foto, kita kembali turun mencari mobil jip pak Kariono.

Another important TIPS: Do not just recognize the jeep from its color only, cause we will find many jeeps with the same color. Better you should memorize the car plate number before you leave.

Pada masa peak season akan ada puluhan jip di sana. Pada saat itu saja ada sekitar 30-an jip. Setelah semua lengkap, kita berangkat menuruni Gunung Penanjakan menuju lautan pasir. Posisi tetap seperti semula, saya duduk di depan, Didi dan Rahmat duduk di belakang. Di sebuah tikungan kita berhenti kembali karena dari tikungan itu kita bisa melihat Gunung Batok dari sisi yang lain. Berfoto sebentar dan melanjutkan perjalanan kembali. Rute ini adalah rute yang kita tempuh kemarin malam. Di kejauhan di bawah di lautan pasir, kita bisa melihat rombongan turis yang lain sudah samapai di sana. Terlihat mereka memarkirkan jip mereka dengan rapi. Dalam perjalanan, saya mencoba mengumpulkan informasi mengenai lokasi yang akan kita tuju dari Pak Kariono. Beliau menyebutkan dari lautan pasir menuju ujung anak tangga ke kawah Bromo kira-kira berjarak 2,5 km. Kita bisa menyewa kuda di sana. Rata-rata harga sewa kuda untuk bolak balik sekitar 100 ribu. Kalo kita pintar menawar bisa dapat 65rb. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di lautan pasir. Beberapa tukang kuda mengejar jip kita mencoba menawarkan jasa mereka. Dari salah satu tukang kuda tersebut mereka menawarkan Rp 75rb sambil menakut-nakuti kalau jarak yang akan kita tempuh akan jauh dan kita akan menaiki tangga lagi pasti akan kecapaian. Lucunya lagi 75ribu itu kata mereka hanya one way trip. Saya langsung menolak dan teman-teman yang lain setuju untuk berjalan kaki saja. Tapi akhirnya si tukang kuda setuju dengan 75 ribu untuk bolak balik. Karena saya bukan penawar yang baik, saya menyetujuinya saja. Lumayan mendapatkan pengalaman naik kuda di Bromo. Sebelum menaiki kuda beberapa instruksi diingatkan oleh tukang kuda, untuk berbelok ke kanan tarik kekang kuda ke kanan dan arah sebaliknya. Untuk berhenti tarik kekang ke arah belakang. Rahmat paling terbiasa naik kuda, setelah naik posisinya terlihat satai sekali di atas kuda. Didi terlihat agak kaku. Sedangkan aku sendiri, susah sekali untuk menaiki si kuda. Mungkin karean perutku yang mulai membesar. Ha ha ha ha. Setelah kudanya berjalan pun Rahmat terlihat santai sekali, sementara Didi masih membiasakan diri. Aku dan Rahmat coba membalap satu sama lain. Lucunya Didi yang mulai terbiasa menunggang kuda bisa mengambil foto dari atas kuda. Melewati lautan pasir dan pura suku Tengger, di jalan yang menanjak kita juga melewati beberapa gundukan tanah. Jadi kita harus bisa sedikit mengendalikan kuda mencari tanah yang agak rata. Agak susah untuk menjaga keseimbangan badan bisa harus melawati jalan yang tidak rata. Dan aku sampai terlebih dahulu, lalu memberikan kudanya ke tukang kuda. Duh tangga menuju ke kawah Bromo sepertinya tinggi sekali ya. Duh rintangan lain pikirku. Berapa pastinya jumlah anak tangga menuju ke atas kawah Bromo saya tidak tahu. Tapi yang pasti sudut kemiringan tangga tersebut lebih dari 45 derajat. Pasti sangat melelahkan. Baru 10 anak tangga rasanya seperti sudah beratus-ratus anak tangga. Kondisi ini biasa terjadi bagi orang-orang yang belum pernah naik gunung. Udara yang tipis membuat membuat kita gampang capai. Padahal tinggi gunung Bromo relatif rendah, kurang lebih 2.440 km dari permukaan laut. Ditengah-tengah tangga tersebut terdapat sedikit tempat beristirahat, tetapi karena kodisiku yang payah setiap 5 anak tangga saya berhenti untuk beristirahat. Aku dan Didi tertinggal jauh di belakang dari Rahmat. Padahal Rahmat perokok, tetapi staminanya lebih mendukung. Akhrinya kami berhasi sampai di atas menyusul Rahmat. TIPS: Better should not impose yourselves to reach the top quickly. Lebih baik bisa mengukur diri sendiri. Terlihat ada oarang yang muntah-muntah setleai sampai di atas kawah karena memaksakan diri.

- in the middle of no where – Wah Kawah Bromo di lihat dari dekat ternyata luas sekali. Dasar kawah terlihat sangat dalam dan dari tengah-tengahnya masih terlihat asap keluar. Dari baunya bisa tercium bau belerang. Terlalu lama menghirup gas belarang kadang membuat pusing juga. Di bibir kawah hanya sebagiannya saja yang dipagari, di bagian bibir yang lain sangat beresiko bagi orang-orang yang yang takut akan ketinggian. Herannya ada beberapa orang yang berusaha memutari bibir kawah tersebut dan kemudian terlihat berada di bagian lain di seberang kawah dan kemudian berteriak seakan-akan mereka sudah berhasil menaklukan ketinggian Bromo. Aku hanya cukup puas mencoba merayap ke bagian terdekat bibir kawah yang tanpa pagar, walau kemudian baliknya sedikit merayap karena fokus mataku tidak terbiasa dengan perbedaan ketinggian.

- The journey I have made meander, far away and many of deterrents. Same as my life - Akhirnya Didi yang mulai tidak tahan dengan bau gas belerang mengajak untuk turun kembali. Sayang kita tidak punya waktu yang banyak sehingga tidak bisa mendaki gunung Batok yang berada tepat di seberang Gunung Bromo. Jaraknya paling hanya 500 meter dengan ketinggian mungkin sekitar 1 km.

Setelah sampai di ujung bawah anak tangga, tukang kuda yang tadi menghampiri kami kembali. Mereka kembali mengingatkan beberapa instruksi-instruksi cuma dalam hal ini mereka menambhakan kalau menuruni turunan mereka memnta kita untuk condong ke arah belakang kuda dan kaki berada di depan. Sebelum jalan turun, kami menyempatkan diri untuk berfoto di atas kuda. Dan jadilah si tukang kuda menjadi photographer dadakan. Jalan menurun lebih susah bila kita mengendarai kuda. Harus lebih konsentrasi. Iri rasanya bila melihat beberapa tukang kudang yang sudah bisa dengan gesit dan cepat mengendarai kuda. Dalam perjalanan turun, terlihat beberapa pengendara motor berusaha menaiki tanjakan dengan motor mereka ke arah tangga kawah. Tapi karena medannya tidak memungkinkan akhirnya mereka hanya bisa sampai pada batas tertentu saja. Duh, orang-orang Indonesia kadang kurang menghargai ke-asri-an alam mereka sendiri. Saya sangat tidak setuju kalau motor sampai naik pada batas tersebut. Sebaiknya mereka parkir di tempat yang sama dimana jip-jip juga parkir. Padahal patok-patok beton sudah membatasi dareah tersebut, sehingga jip atau mobil hanya bisa berhenti pada batas tersbut dan tidak mengganggu pura suku Tengger, tapi tetap saja motor bisa melewatinya. Setelah mencapai daerah yang rata, aku mencoba memacu kudaku lebih kencang. Ternyata susah juga mengendalikan kuda dalam kecepatan yang lebih cepat (walau belum secepat tukang-tukang kuda itu). Karena Didi masih tertinggal jauh di belakang, aku coba belajar lebih banyak mengendalikan kuda. Ternyata menarik juga ya. Paling-paling resikonya jatuh. Dan benar, ketika jalannya mulai tidak rata dan dalam kecepatan tinggi aku berusaha untuk menghentikan kuda. Tetapi karena terlalu tiba-tiba dan posisiku masih condong ke depan akhirnya aku jatuh juga. Fuiiih, pas waktu jatuh seakan-akan gunung-gunung berputar mengelilingiku. He he he he. Untungnya bagian pinggangku yang menghantam tanah terlebih dahulu. Rahmat dan Didi tertawa-tawa melihat ku terjatuh dikejauhan. Setelah berkumpul kembali, Rahmat mebayar sejumlah Rp 235rb untuk sewa tiga ekor kuda. Dipikir-pikir mungkin aku terlalu pelit setelah meminta Rahmat melebihkan 10ribu dari harga yang seharusnya. Kita berjalan kembali menghampiri jip Pak Kariono, dan lalu aku meminta pak Kariono untuk foto bersama di depan jip beliau. Kembali melanjutkan perjalanan pulang ke penginapan Bromo Cottage dengan Agung yang tadi pagi masih tergeletak di sana dengan flu nya.

MY BROMO TRAVELING EXPENSES:

  • FLIGHT Fare Jakarta – Surabaya Rp 851.800 / prsn (my return ticket more cheaper appx. + Rp 500.000)
  • CAR + DRIVER Rp 400.000
  • GASOLINE Rp. 100.000
  • ROOM for Hotel Bromo Cottage (through Travel Agent) Rp 500.000 (superior twin + breakfast for 2 person)
  • JEEP Rental Fee: Rp. 350.000 (coordinated by Hotel)
  • COVER CHARGE to the “Bromo Tengger Semeru National Park”
  • HORSE Rental Fee: 75.000/org + 10.000 tip
  • GLOVE + HEAD COVER: Rp 15.000
  • COAT Rental Fee Rp 5.000

SOME BROMO TRAVELING TIPS & NOTES: In order to make your trip comfortable, I suggest you bring hiking shoes, torch, back up of your camera batteries for your camera or cam coder, umbrella or rain coat (during rainy season, normally from Novembar till March) The temperature all year round in day time 22 – 26 C and night time 15 – 18 C with 55-70% humidity.

DAY TWO “ULUS MEYDANI” – Monday, MAY 26.

Pagi hari suasana sepi. Semuanya kecapaian sepertinya. Tadi malam aku memilih tidur di living room. Karena pintu balkon dibuka sedikit, udara pagi di Ankara terasa sejuk. Keluar sebentar ke balkon, fuuuiifh, anginnya dinginnya minta ampun. Tanpa alas kaki telapak kaki serasa beku di lantai balkon.

Di dapur mulai terdengar keramaian. Ternyata tante, papa dan mama sudah mulai sarapan di sana. Hari ini kita rencananya akan pergi ke pusat keramaian di kota Ankara. Kita akan ditemani oleh mba Yah, pembantu mba Ante. Lumayan ada guide walau sebenarnya mba Yah tidak tahu di mana pusat-pusat keramaian yang menarik untuk dikunjungi. Dari Lonely Planet, kutahu kalau Ulus adalah salah satu pusat keramaian. Jadi sepertinya kita akan memulai jalan-jalan dari sana.

Bangun tidur ternyata mereka langsung makan roti dan teh. Dan menjelang mau berangkat (agak siangan) tante makan lagi dengan nasi dan sambal kecap. Sambal kecapnya tidak pake cabe rawit,karena di Ankara yang ada cabe gede-gede warna hijau muda sebesar jempol gemuk2 dan dirajang kecil. Rasanya tidak terlalu pedas.
Mba Yah harus menyiapkan kebutuhan-kebutuhan anak-anak mba Ante untuk sekolah. Dan kita rencananya akan berangkat setelah anak-anak berangkat sekolah dan si pembantu selesai memasak untuk makan siang dan malam nanti.Anak-anak berangkat jam 07.30 dan dijemput dengan mobil antar jemput anak sekolah. Mereka besekolah di sekolah Pakistan, karena biayanya jauh lebih murahbila dibanding dengan sekolah Amerika dan Inggris.

Mba Ante berangkat jam 08.45. Jarak dari rumah ke kantornya tidak terlalu jauh. Jam masuk kantornya jam 09.00. Jam 10.00 kita siap-siap berangkat. Aku membawa ransel dan tas pinggang. Ranselku berisi brosur-brosur kota Ankara dan beberapa botol kecil minuman air mineral. Sedangkan tas pinggang berisi passport, sejumlah kecil uang dan foto kopi kecil tentang Ankara. Keluar dari rumah, saya baru sadar kalau di public area apartment, penerangannya memakai sensor gerak. Jadi lampu di depan pintu masuk unit apartmen hanya hidup bila ada aktifitas gerakan. Setelah penghuni bergerak masuk ke dalam atau menjauh masuk ke lift atau turun tangga, lampu tersbut akan mati dengan sendirinya.Wah pemerintah Turki sadar energi ternyata. Hal positif yang patut ditiru oleh Indonesia.

Rencananya kita akan pergi naik bis umum untuk menghemat. Dari apartemen kita jalan tidak jauh kemuadian menunggu di dekat persimpangan.Ternyata bis yang akan kita naiki berukuran tanggung, kurang lebih seperti Kopaja ato Metromini, tetapi ini lebih kecil hanya muat untuk kurang lebih 13 sampai 14 orang duduk dan yang laiinya bisa berdiri.Dari Cankaya kita menuju Ulus Meydani, karena dari ‘Lonely Planet’ di dekat Ulus banyak terdapat spot-spot untuk dilihat.

Sepanjang perjalanan banyak hal yang bisa dilihat. Rute bis ini juga melawati daerah pemukiman. Sempat juga melawati Ankara University. Ongkos bis untuk satu orang 1,5 lyra.Note: mata uang Turki adalah Lyra. Dahulu mereka menyebutnya hanya lyra tetapi sudah diganti dan mereka menyebutnya “yetele”. Sebenarnya YTL cuma penyebutannya “yetele”. YTL singkatan dari Yeni Turkish Lyra yang berarti turki lyra baru ( Yeni = baru).Juga ada beberapa penumpang yang menuju Ulus dan mahasiswi yang berangkat kuliah. Baju-baju dan dandanan mereka terlihat liberalis. Seorang mahasisiwi juga cuek aja merokok di bis dan memilih duduk dilantai ketimbang duduk di kursi. Rata-rata perempuan di sana memakai celak mata, begitu juga beberapa mahasiswi.

Bis mulai masuk jalan-jalan kecil dengan pertokoan di kanan kirinya. Mulai tampak kumpulan bis-bis di depan, dan jalan bis mulai melambat. Kalau melihat peta posisi kita bukan di terminal. Jaraknya masih agak jauh dari terminal.Ternyata bis dari jurusan Cankaya berhenti dan berkumpulnya memang di daerah itu.Turun dari bis kita benar-benar kehilangan orientasi. Banyak supir-supir taxi dan bis menawarkan jasa mereka, karena kita kelihatan seperti orang bingung. Aku inisiatif untuk mengajak rombongan ke arah yang menurut insting ku menuju ke jalan besar.

Ternyata kita memang keluar di jalan besar. Jalan besar ini adalah Ataturk Bulvari, yaitu jalan protokol di Ankara. Kalau di Jakarta seperti jalan Sudirman gitu deh.Sekarang tinggal berusaha mencari arah ke alun-alun tempat patung Ataturk. Kupikir kalau sudah ketemu patung itu akan mudah mencari tempat tujuan yang lain.Ternyata kita jalan tidak jauh, hanya 300 meter kita sudah ketemu dengan alun-alun tersebut.Ternyata Ulus Meydani tersebut adalah alun-alun Ulus dimana terletak Monumen Patung Ataturk / Ataturk Statue. Mungkin kalo bahasanya gampang dimengerti kita akan cepat memahami peta dan bertanya ke orang-orang sekitar.

Monumen Ataturk di Ulus adalah patung Ataturk menunggang kuda yang berada di atas podium marmer dikelilingi oleh 4 patung pejuang Turki di keempat sudutnya. Setiap patung pejuang memiliki ekspresi yang berbeda yang yang melambangkan apa saja juga tidak tahu (pasti ada filosofinya).

Alun-alun ini di bagian depannya terbentang jalan Ataturk Bulvari dan di sekeliling belakangnya penuh dengan pertokoan kecil-kecil.

Di bagian tengah antara pertokoan dan patung-patung terlihat banyak burung merpati bergerombol. Tampak pedagang menjajakan makanan burung. Kita beli makanan burung itu tidak banyak, dan melemparkannya ke sekitar merpati. Wuiifh, merpati-merpati itu terbang mendekati dan mengerumuni kita.

Setelah berfoto sebentar di sana, entah kenapa kita memutuskan menuju Mesjid Haji Bayram (Haci Bayram Camii). Dalam bahasa Turki, camii berarti mesjid. Jaraknya juga tidak terlalu jauh, sekitar 300 meter ke arah timur laut dari alun-alun Ulus.Mencarinya juga tidak terlalu susah, karena kita tinggal mencari menara masjid. Cuma jangan salah dengan mesjid yang terletak dekat dengan alun-alun Ulus. Masjid Bayram lebih besar disekitarnya juga ada alun-alun dan tempat parkir yang luas.Dari tempat parkir kita bisa melihat jelas mesjid tersebut. Di kejauhan arah tenggara kita juga bisa melihat sebuah benteng terletak di atas bukit. Benteng tersebut adalah Benteng Ankara. Beberapa menyebutnya Ankara Citadel dan ada juga yang menyebutnya Hisar.

Di depan masjid Bayram terdapat bangunan kecil. Di dalamnya terlihat sekilas beberapa orang sedang berdoa. Sepertinya bangunan ini adalah bangunan makan Haji Bayram.Bangunan utama masjid Bayram berupakan bangunan dengan material bata merah telanjang yang tidak diaci. Pasangan batanya sangat rapi. Kalau dipikir-pikir persis sama dengan bangunan Frateran di Malang. Di bagian belakangnya terdapat bangunan tempat wudhu dan asrama yang terpisah dari bangunan utama.

Setelah puas melihat-lihat mesjid, kita menuju pasar Haji Bayram (Haci Bayram Pazari). Posisinya persisi diseberang parkiran masjid Bayram.Barang-barang yang dijual di sana persis seperti barang-barang oleh-oleh haji di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Beberapa menjual Al Quran, minyak zaitun, tasbeh, kaligrafi, pasmina, dan pernak-pernik menarik yag lainnya. Kalau kata tante suasananya persis seperti pasar Mayestik.Aku membeli Al Quran tanggung berwarna merah untuk oleh-oleh Bapak, seharga 10 YTL. Sedangkan niku membeli pigura seharga 5 YTL. Tante sepertinya banyak membeli pasmina (atau syal ya?) untuk oleh-oleh.

Setelah capek berbelanja, kita sepertinya harus break buat makan siang. Di pojokan pasar terdapat kedai kebab. Saya lupa namanya. Berhubung jam makan siang, kedai kebab tersebut cukup ramai.Kami memilih duduk di pojokan luar. Karena ini warung kebab ya kita memilih menu kebab tentunya, Turkish Kebab dan coke dengan jumlah pesanan sesuai dengan jumlah kita.
Beberapa pesan kambing dan yang lainnya kebab sapi. Ternyata Turkish Kebab dihidangkan dengan menu sampingan Turkish Salad. Kebab kambing merupakan irisan daging kambing yang sudah dibakar disajikan dengan roti canai di bawah dan atasnya. Dan dilengkapi dengan potogan cabai hijau yang bijinya sudah dibersihkan. Aku memakannya dengan ditaburi chili papper, supaya terasa agak panas di mulut. Sedangkan salad merupakan kumpulan sayuran, potongan tomat dan bawang bombay yang ditaburi chili papper dan diberikam potongan citrus. Wah kebab dan salad yang agak panas dimulut (karena chili papper) ditambah coca cola merupakan kombinasi yang pas. Yummmy (jadi ngiler kalo mengingatnya kembali).

(to be continue)

Turkey – Merhaba Ankara

11.52 ANKARA TIME (MARCH 25)

Pesawat mendarat jam 11.52 waktu Turki. Mendarat di Esenboga Havalimani, Ankara.

Waktu landing pesawatnya sempat bumpy. Dan akhirnya kita mendarat dengan selamat di Esenboga Havalimani.
Airport dalam bahasa Turki adalah havalimani.

MERHABA ANKARA – Halo Ankara.
Dari pesawat ke bandara kita melewati setellite. Satellite di Esenboga berkesan modern, tetapi berukuran lebih kecil dibanding dengan satellite di Indonesia.
Satellite atau di negara kita lebih dikenal dengan istilah ‘belalai’ ini menghubungkan kita ke lantai dua bandara. Dan kita harus turun ke lantai 1 untuk mengambil bagasi kita.
Bandara Esenboga terlihat modern walau kesannya terlalu sepi. Mungkin karena ini terminal domestik.
Dari dalam bandara kita bisa melihat luas ke arah dalam bandara (parkiran pesawat) dan juga ke arah luar bandara.
Di kejauhan terlihat mba’ Ante melambai-lambai. Mba’ Ante memang menyempatkan diri untuk menjemput rombongan kita.

Papa dan mama ke toilet. Koper-koper bawaan sekarang tidak perlu troley lagi untuk membawanya. Karena jarak dari belt conyevor ke luar cukup dekat.
Tips: bila harus membawa koper yang besar, sebaiknya pilihlah yang ada rodanya. Sehingga mudah ditarik.

Di terminal domestik kita tidak perlu pengurusan pabean. Karean secara resmi kita sudah masuk ke negara Turki di Istanbul.
Bertemu dengan mba’ Ante kita kangen-kangenan, karena sudah 1 tahun tidak bertemu.
Mobil yang menjemput kita cukup besar, Mercy Vito.

Dari terminal ke arah apartmen mba’ Ante lumayan jauh. Untuk mengetahui arah airport dan tempat tinggal mba’ Ante aku melihat dari majalah Skylife, majalah Turkish Air yang kuambil dari pesawat tadi.
Tips penting, kalau kita bepergian dengan pesawat, majalah peawat adalah sumber informasi yang akan sangat membantu memberikan informasi tentang kota yang akan kita tuju.
Paling tidak kita memdapatkan informasi walau hanya sedikit.
Bandara Esenboga berada di utara Ankara, sedangkan mba’ Ante tinggal di daerah Cankaya, yaitu bagian selatan Ankara.

Dalam perjalanan, kita melewati beberapa titik landmark kota. Wah sepertinya ini nantinya menjadi tujuan petualangan kita. Senengnya.
Lalu lintas Ankara lumayan ramai, tetapi tidak menimbulkan kemacetan. Kendaraan berjalan di sebelah kanan, kebalikan dengan di Indonesia.
Mobil kebanyakan stir kiri, tapi banyak juga yang stir kanan.
Sepertinya hari ini kita tidak bakal jalan-jalan karena semuanya pasti capek.

Akhirnya kita sampai ke aparment mba’ Ante. Lokasinya berada di areal pemukiman. Selatan Ankara adalah daerah pemukiman.
Senang akhirnya bisa sampai. Ada banyak kesempatan untuk istirahat. Ketemu dengan keponakan-keponakan.
Rencananya kita akan tinggal di Ankara selama 3 hari. Buatku 3 hari ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Sebab sesuai rencana perjalanan aku tidak bakal kembali ke Ankara. Lain halnya dengan rombongan yang lain yang akan kembali ke Ankara dan beberapa akan tinggal cukup lama di sana.

Sesorean hari ini cukup untuk mengagumi kota Ankara dari lantai 8. Itu pun jauh dari pusat kota. Dan malammnya keluar sebentar ke mini mart untuk belanja buat sarapan besok.
Kupikir temperatur malam hari tidak begitu jauh berbeda dengan suhu siang hari. Ternyata dingin sekali, padahal aku hanya pake kaos tipis dan celana tanggung. Phuuuif……
Di mini mart aku sempet tertarik melihat roti tipis seperti canai. Beberapa orang menyebutnya pita. Aku beli beberapa. Lumayan buat menghilangkan keingintahuanku dan besok buat sarapan.

Sesampai di rumah, keluarkan semua informasi mengenai tentang Ankara. Dan tanya beberapa informasi tentang Ankara ke mba’ Ante.
Dari Jakarta saya sudah bawa ‘kamus sakti’ buat traveler yaitu buku Lonely Planet.
Tapi sebaiknya jangan terlalu percaya dengan 1 sumber infromasi saja.

END OF DAY ONE

07.30 LOCAL TIME

Pesawat mendarat jam 07.30 waktu Turki. Mendarat di Ataturk Airport, Istanbul.
Di pabean (custom) antrian panjang sekali. Si Mas Wandra sempet nervous dan kebelet boker, pingin ke wc. Tante Nining juga pingin ke wc juga. Mereka berdua akhirnya ke wc. Setelah lama mengantri kita akhirnya sudah dekat dengan counter pabean. Si tante ternyata sudah selesai dari wc dan dia permisi nyerobot2 untuk balik ke antrian deket kami.

Konter pabean ada beberapa jumlahnya. Jadi untuk mempercepat proses keimigrasian kami membagi jadi beberapa grup. Grup pertama Niku, papa dan mama. Grup kedua Aku dan tante. Dan si mas sudah kembali ke antrian tapi dia tidak seberani tante untuk permisi menyerobot kembali ke antrian. Jadi lah dia ada di antrian paling belakang. Puiiifh…..

Di konter pabean aku dan tante cukup cepat prosesnya. Grup niku, papa dan mama agak lama dan sempet ditanya-tanya.

Bagi beberapa orang soal tetek benget urusan pabean tentu bikin panik dan nervous.
Beberapa tips yang mungkin berguna bila kita berada dalam situasi antrain pabean:

  1. Siapkan semua dokumen yang diperlukan seperti; Passport, tiket pesawat (bila perlu).
  2. Bila perlu selipkan tiket pesawat di lembaran approval visa negara yang kita tuju. Dalam hal ini saya menyelipkannya di visa turki. Hal ini untuk mempermudah petugas pabean tidak perlu mencari-cari lembar visa yang sudah di-approve di kedutaan negara bersangkutan di Jakarta.
  3. Jangan terlalu nevous bila berada di antrian. Kalo perlu toilet, yah ke toilet lah dahulu.
  4. Bila kita dalam 1 group sebaiknya jangan dipisah. Pengurusan pabean dalam 1 group mempercepat prosesnya.
  5. Jangan terlalu banyak membantah / melawan petugas. Jawab seperlunya saja.

Selewatnya konter pabean kita menuju ban berjalan (belt conveyor) tempat bagasi kita diturunkan. Informasinya gampang, seperti informasi di penerbangan domestik Indonesia kita bisa melihat dari TV. Pikir-pikir bagasi yang harus diangkut cukup banyak juga. 1 koper besar aku dan 1 koper tanggung niku, 1 koper besar tante, 1 koper mas, 1 koper mama & papa dan 1 koper oleh-oleh pesanan mbak Ante. Jadi total 6 koper. Belum lagi setiap orang masing2 membawa backpack.
Papa, mama dan tante gak mungkin kan disuruh seret-seret koper. Kalo pake jasa porter mahal juga kali ya. Coba cari troley dan ternyata tempatnya gampang untuk ditemukan. Catatan: jangan mengambil sembarangan trolley ngangur. Di tempat troley ternyata troley dirantai dan memerlukan koin untuk melepas troley tersebut. Ini koin lokal dan jadilah aku mengganti uang euro ku ke mata uang lokal: lyra. Saya meminta ditukarkan dengan beberapa pecahan koin juga.
Dua troley cukup pikirku. 1 troley = 1 lyra = 8000 rupiah, lumayan juga ya.
Lucunya setiap bagasi yang kita ambil tidak diperiksa petugas bandara ketika kita keluar dari pintu terminal. Bisa saja kan kita salah mengambil koper orang lain atau koper kita diambil orang lain!


Istanbul bukan akhir tujuan kita di Turki. Kita masih harus ke Ankara.
Ini baru di terminal International, kita harus pindah ke terminal domestik yang jaraknya cukup jauh. Kita harus jalan kaki ke sana. Troley memang sangat membantu. Cukup cape’ soalnya aku dan mas harus mendorong troley yang masing2 berisi 3 koper.
Beberapa tempat harus melewati ramp yang cukup terjal katrena passanger belt conveyor tidak boleh dilalui troley.

Sesampainya di terminal domestik kita coba mencari konter informasi untuk menanyakan tiket kita. Ternyata tidak gampang mencari konter informasi.
Karena tiket domestik kita adalah Turkish Air, aku inisiatif tanya ke stand turkish air.
Jenis tiket kita adalah online tiket, karena kita memesannya melalui internet dari Jakarta. Jadi oleh petugas kita ditunjukkan ke konter M. Konter M ada konter khusus untuk Online / internet Check in yaitu di konter M03 dan M04.

Selesai urusan check in, perut lapar dan harus sarapan. Jadilah kita cari tempat sarapan. Schedule pesawat kita adalah jam 11.00 waktu setempat, jadi masih banyak cukup waktu buat sarapan. Sebelum sarapan beli beberapa snack dan minuman buat persediaan. Dan kita sarapan di “Cockpit”.
Menu yang kita pilih adalah plain omelette dan omelette with cheese. Yummy…
Rata-rata harga setiap makanan 11 lyra. Dan total pengeluaran semuanya 60 lyra something. Mahal juga. Karena kita salah lokasi, karena akan lebih murah kalau kita makan di food court.

Jam menunjukkan jam 09.30, masih banyak waktu dan kita sepakat untuk menunggu saja di ruang tunggu.
Pesawat kita, Turkish Air menuju Ankara boarding di gate 110.
Waktu melewati pos penjagaan aku sempat ragu-ragu, boleh tidak ya membawa air minum yang sudah kubeli. Aku tanyakan ke petugas dan mereka bilang, ” NO PROBLEMO”.
Ternyata kebijaksanaan penerbangan domestik Turki sama dengan di Indonesia, tidak terlalu ketat untuk jumalh zat cair yang dibawa.

Jam 10.45 waktunya boarding. Pesawat yang kita naiki adalah boeing 737-300.
Dan kita take off jam 11.00 sesuai schedule.
Makanan di pesawat domestik Turkish Air tidak menarik. Pilihannya salad atau sandwich.
Aku memilih sandwich. Ternyata tidak enak. Rotinya keras.


Waktu mau landing cuaca cukup buruk. Hujan deras. Dan pesawat terbang di bawah awan hujan yang tebal dan merata. Jadi selalu terpengaruh dengan cuaca hujan.
Ternyata geografis Ankara berada di daerah perbukitan. Cukup seram juga harus mendarat dalam cuaca buruk di daerah perbukitan.
Niku sempet ditakut-takuti mas. Dia kan emang phobia terbang.

11.52 ANKARA TIME

Pesawat mendarat jam 11.52 waktu Turki. Mendarat di Esenboga Havalimani, Ankara.

Waktu landing pesawatnya sempat bumpy. Dan akhirnya kita mendarat dengan selamat di Esenboga Havalimani. Airport dalam bahasa Turki adalah havalimani.

DUBAI – 22.53 LOCAL TIME

Setelah sedikit tidur ayam, akhirnya mendarat juga di Dubai jam 02.53 am waktu Singapura ato jam 22.53 waktu setempat. Berarti di Jakarta jam 01.53 dini hari.
selesih waktu antara Dubai dan Singapura adalah 4 jam.

Sebelum turun transit, di dalam pesawat diumumkan kalo waktu transit kita hanya 1 jam 15 menit alias satu seperempat jam.
Tapi herannya sewaktu kita melewati gate transit, petugas di pintu kedatanganan memberikan tiket boarding dengan peringatan kalo transit hanya
setengah jam. Huuuh mana yang bener ya? Dari pada terlambat mendingan kita mengikuti waktu terpendek yang diingatkan. Kulirik nomor gate tempat kita keluar. GATE 21, berarti nanti kita harus kembali ke gate itu.

Di airport Dubai semua ke toilet. Sikat gigi, cuci muka dan yang pasti beol… fuuuifh leganya. Bersih-bersih.
Yang butuh beribadah, melanjutkan dengan shalat. Papa dan tante Nining juga shalat.
Dari area toilet menuju public area kita kembali harus melewati gerbang sensor plus dengan security-security itu.
Kompas bawaan Wandra dicurigai karena bentuknya.Bentuknya seperti jam weker, dicurigai seperti timer BOM. Ha ha ha ha.
Ini yang bodoh petugas imigrasinya kali ya. Jelas2 itu kompas, masih aja tanya2.

Dan ternyata detector di Dubai lebih sensitif. Kali ini sabuk ku pun harus dilepas, karena sensornya berbunyi.

Masuk ke public area kita berfoto-foto ria di sana. Beberapa dengan latar belakang Dubai Airport directory board dan yang lainnya dengan latar belakang konter informasi airport Dubai.
Setengah jam bukan waktu yang lama. Baru sebentar duduk-duduk di area publik, kita sudah melihat orang-orang sudah antri kembali untuk masuk ke ruang tunggu GATE 21, tempat pesawat SQ yang kita naiki tadi merapat.
Duduk sebentar di GATE 21, tidak lebih 10 menit akhirnya kita boarding kembali.

Setelah pesawat kembali take off, kembali aku sibuk mengamat-amati pesawat yang aku naiki.
Ternyata bagi penumpang yang membawa bayi, pesawat memberikan kemudahan dengan mendudukkan orang tua penumpang dekat dengan batas ruang depan dan belakang (biasanya pembatas antara kelas bisnis dan kelas ekonomi)
Nah di dinding pembatas itu orang tua si bayi dapat menaruh bayinya di compartment yang disediakan maskapai penerbangan. Bentuknya seperti keranjang bayi yang menempel ke diding.
Layanan utama yang ditwarkan oleh SQ adalah inflight entertainment mereka. Bisa nonton movie, program TV, dengerin musik, main games dan alat bantu komunikasi.
Semuanya dikemas dalam satu alat seperti remote control ato tepatnya ganggang telepon yang terhubung dengan sebuah monitor televisi di depan tempat duduk kita.

Layanan lainnya yang ditawarkan adalah headphone untuk mendengarkan musik atau menenonton film juga bisa sebagai pelengkap audio pada pilihan game.
Juga ada selimut seperti biasa dan satu set amenity kit bag yang berisi sikat gigi dan kaos kaki yang bisa kita pakai pada saat tidur dan kedinginan.
Kalau tidak kita pakai juga tidak apa2, aku lebih memilih menyimpannya sebagai souvenir (Hahahaha dasar orang udik).

Perbedaan waktu antara Dubai dan Turki adalah 1 jam. Dubai 1 jam lebih cepat. Biasanya menjelang pagi, toilet pasti antri.
Sebagai tips sebaiknya jangan terlalu tergantung pada 1 toilet. Bila toilet yang terdekat ada antrian, tidak ada salahnya mencari toilet yang agak jauh atau lebih jauh.
Hitung-hitung sekalian meregangkan otot berjalan agak jauh sekalian lihat-lihat sekeliling.
Paling-paling yang kita lihat orang-orang yang sedang tidur (he he he he).
Di depan toilet aku sempat stretching sebentar. melemaskan otot-otot pudak, leher dan pinggang.
Kemudian baru masuk ke toilet. Di dalam toilet yang kecil, menjelang pagi maskapai menyediakan Amenity set yang lebih lengkap. Lebih lengkap dari yang dibagi-bagi.
Ada cologne, lotion aftershave dan lotion pelembab tangan.

kencing sebentar. Cuci tangan, cuci muka. Kemudian lap dengan handuk kecil dan memberikan cologne ke leher secukupnya dan pelembab tangan.
Hmmmmm segar kembali rasanya.

Setelah dari toilet, waktu sarapan. Wah memang sudah lapar, tapi perut rasanya masih aneh begini. Tapi paksa makan saja gak ada salahnya.

07.30 LOCAL TIME

Pesawat mendarat jam 07.30 waktu Turki. Mendarat di Ataturk Airport.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.